.
Bercerita adalah bahasa universal yang memikat peserta didik dengan membuat pelajaran menjadi relevan, personal, dan berdampak. Saat kita bercerita, kita menciptakan hubungan emosional dengan pendengar, yang sangat penting untuk pendidikan yang efektif.
Story Arts yang merupakan kurikulum untuk siswa usia K hingga MFA (master of Fine Arts) yang menghadirkan pakar industri hiburan ke dalam kelas untuk mengajarkan dasar-dasar bercerita memahami pentingnya mendongeng sebagai alat pembelajaran dan bekerja sama dengan para ahli industri hiburan untuk mengajarkan dasar-dasar mendongeng di dalam kelas. Program ini memberi siswa pengalaman nyata dalam menghadapi tantangan mendongeng di berbagai bidang, seperti film, televisi, permainan, desain pengalaman pengguna (UX), pemasaran, periklanan, hingga seni peran.
Melalui partisipasi dalam Story Arts, siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, meningkatkan pemikiran kritis, dan mempersiapkan diri untuk karier di industri media. Selain itu, mereka memperoleh keterampilan bercerita yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang lainnya.
Namun, penting juga untuk mempertimbangkan siapa yang memiliki kendali atas narasi yang disampaikan. Bright Eyed, sebuah inovasi dari Trinidad dan Tobago, bertujuan untuk memberdayakan anak-anak Karibia dengan menghadirkan cerita yang dibuat dan diceritakan oleh komunitas mereka sendiri. Dengan pendekatan ini, mereka menyediakan media yang mencerminkan pengalaman dan realitas anak-anak Karibia, melalui cerita, kegiatan pendidikan lingkungan, serta pameran interaktif.
Selain memperkaya budaya, mendongeng juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan dan pertumbuhan siswa. My Learning Story adalah sebuah alat inovatif yang memungkinkan siswa untuk mendokumentasikan perkembangan dan rasa ingin tahu mereka. Melalui penilaian awal dan refleksi, alat ini membantu mereka menyusun pemahaman awal, mengeksplorasi pertanyaan besar, serta menunjukkan pencapaian mereka dalam bentuk cerita video yang menarik.
Annette De Graaf, mantan pendidik bahasa asing di International School of Amsterdam sekaligus pendiri Flow School Norway, mengembangkan My Learning Story dengan keyakinan bahwa pendidikan harus menjadi perjalanan yang bersifat pribadi dan transformatif. Pendekatan ini memberikan siswa kendali atas proses belajar mereka, memungkinkan mereka untuk maju sesuai ritme sendiri, serta mendokumentasikan wawasan dan pencapaian mereka.
“My Learning Story menanamkan rasa kepemilikan dalam setiap tahap perjalanan belajar. Dengan mendokumentasikan pengetahuan awal dan rasa ingin tahu mereka, siswa termotivasi untuk meneliti jawaban atas pertanyaan mereka, mengatur proses pembelajaran, berbagi hasil penemuan, serta merefleksikan kemajuan mereka. Hal ini tidak hanya membuat siswa merasa dihargai dan didengar, tetapi juga memberikan transparansi bagi pendidik dan orang tua mengenai perkembangan individu mereka,” jelas Annette.